Punya Paras Ngeri, Seafood Ini Malah Jutaan Harganya Per Kilo

Dunia perlautan memang cukup menarik, banyak sekali yang bisa kita makan dari hasil laut tersebut, seperti misalnya aneka Seafood. Olahan dari laut tersebut bahkan sangat beragam sekali, serta dikemas dalam bentuk Frozen pun tak jarang-jarang. Kali ini ada informasi menarik soal seafood yang terbilang aneh, namun kabarnya justru mahal. Apa ya?

Jadi, tampilan salah satu seafood ini memang bikin banyak orang merinding lantaran mirip seperti jari kehitaman dengan cakar tajam. Namanya Gooseneck Barnacles yang dibanderol hingga Rp. 3 juta untuk per kg nya. Lantas apa yang membuatnya istimewa? Mungkin yang umum kita kenal seperti cumi, udang, lobster, kepiting dan beberapa lainnya.

Akan tetapi berbeda pada informasi kali ini, seafood yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Tentu saja, karena jenis seafood inu khas Spanyol dan Portugal dengan bentuk menyeramkan atau bahkan geli bagi sebagian orang yang belum pernah melihat.

Dikenal dengan nama populer gooseneck barnacles, percebes, atau Lucifer’s fingers yang harganya jelas 6 sampai 7 kali lebih mahal dari Main Lobster yang sering kita jumpai di pasar. Salah satu keistimewaan dari gooseneck barnacles tersebut ada pada rasanya yang nikmat, konon rasanya mengingatkan pada lobster, kepiting, dan kerang sebagaimana umumnya.

Gooseneck barnacles juga tidak tumbuh secara sembarangan karena seafood ini hanya ada di zona pasang surut, termasuk di Spanyol dan pulau Vancouver. Mengutip dari Detik Food, (5/1/22) jika harga yang mahal untuk sekilo gooseneck barnacles juga disebabkan oleh proses panennya yang sulit, bahkan bisa mengancam nyawa. Ini semua tentu berdasarkan pengalaman para pemanen gooseneck barnacles yang sudah menyadari betul risiko pekerjaan ini.

Buruknya, rata-rata 5 pemanen dinyatakan tewas dalam setiap tahunnya yang melakukan pekerjaan ini. Akan tetapi semua itu tak menyurutkan keinginan Stevie dan Jordan untuk mengambil gooseneck barnacles sebagai mata pencahariannya. Aktivitas yang biasa dilakukannya yakni harus menaiki perahu motor selama 15 menit untuk mencapai lokasi pulau yang penuh bebatuan di Vancouver, karena disanalah yang merupakan habitat gooseneck barnacles.

BACA JUGA  Akad Nikah di Pengungsian Semeru, Kisah Bahagia di Balik Bencana

Bukan hanya itu saja, tidak langsung memperoleh seafood seperti mudahnya yang dibayangkan akan tetapi mereka harus menunggu agak lama sampai ombak laut sedikit tenang. Perlu diketahui jika pemanenan Gooseneck Barnacles hanya bisa berlangsung saat gelombang laut tengah surut, dan kondisi ini hanya terjadi beberapa jam saja setiap harinya.

Kesulitan tidak sampai disitu saja, tetapi sulitnya menangkap sang seafood lantaran Gooseneck Barnacles sendiri tertutupi oleh air laut, sehingga sangat berbahaya apabila diambil dari bebatuan. Seperti yang diungkapkan oleh Jordan, yang pada intinya “Memanfaatkan Waktu yang Sebentar dengan Maksimal”.

“Ini tidak seperti kamu memiliki jendela waktu 8 jam penuh untuk mengambil gooseneck barnacles sebanyak yang diinginkan, kamu hanya memiliki waktu sebentar dan kamu harus memaksimalkannya,” ungkapnya.

Dalam melakukan pekerjaan menangkap Gooseneck memang harus ekstra hati-hati, karena sedikit saja tergelincir akan lain cerita.

“Ini bukan seperti pekerjaan yang siapapun bisa melakukannya,” imbuhnya.

Mereka bekerja dengan tim kecilnya, saling menaruh kepercayaan satu sama lain untuk bekerja secara maksimal pada pekerjaan masing-masing. Konon, gooseneck barnacles tumbuh ditempat yang sulit dijangkau, dagingnya sangat empuk dan padat. Ini merupakan wujyd penyesuaian mereka terhadap ombak yang bisa saja lebih besar.

Artinya, bisa juga seafood tersebut akan lebih sulit dipanen. Misalnya Stevie, ia harus menggunakan alat khusus yakni pisau dan satu lagi seperti linggis untuk mencabutnya dari batu, dan kemudian ditarik ke atas perlahan dengan menggunakan tangan.

Tentu pekerjaan yang menguji adrenalin sekali. Meski begitu proses yang dilakukannya juga semata agar tidak menyakiti organisme yang menempel pada Gooseneck Barnacles dan memastikan bahwa hasil panenannya utuh.

Parahnya semua hasil panen tentu tidak 100% bagus terjual, diantara total gooseneck yang di panen 10% biasanya kurang layak tuk dijual dipasaran. Jumlah panen setiap kalinya selalu dibatasi, agar tidak berlebih yang merugikan lingkungan.

Setiap kali selesai memanen, Jordan dan Stevie langsung membawa gooseneck barnacles ke restoran tanpa menunggu keesokan harinya atau dibekukan terlebih dahulu. Selain mengurangi tekstur dan kualitas rasa, proses tersebut akan berpengaruh pada nilai jual juga.

BACA JUGA  Video Viral Jembatan Ambruk di Cihampelas, Netizen Minta Diperhatikan!

Jadi mereka selalu menjual dalam keadaan segar. Gooseneck Barnacles di pasaran tergolong skala A, B, dan C berdasarkan kualitasnya. Untuk skala A mengartikan jika gooseneck dalam keadaan masih sangat bagus dan segar.

Pengolahan Seafood khas Spanyol tersebut lebih nikmat dengan sedikit bumbu, sehingga tidak mengurangi rasa aslinya yang bak “Lautan”. Oleh karena itu tak jarang disana Gooseneck Barnacles hanya diolah dengan cara direbus dengan sedikit garam. Di Vancouver sendiri, gooseneck barnacles sudah menjadi salah satu sumber makanan tradisional selama hingga ratusan tahun. Harganya bakal lebih mahal pada saat musim panas dan musim liburan tiba.